Tidak Menghadiri Hari Raya Kaum Musyrikin merupakan Sifat Ibadurrohman

Diantara tanda-tanda sifat ibadurrohman adalah dengan tidak menghadiri dan menyaksikan hari raya kaum musyrikin.

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ

“(Dan di antara sifat Ibadurrohman) mereka yang tidak menyaksikan az-zur”. (Qs. Al-Furqon [25]: 72)

Al-Wahidi dalam tasfirnya “al-Basith”(16/602) mengatakan:

ونحو هذا قول من فسر: {الزُّورَ} بأعياد المشركين. وهو قول الضحاك، فيما روى عنه حسين بن عقيل، وقول مجاهد، فيما روى عنه يحيى بن اليمان. ونحو هذا قال ابن سيرين؛ هو: الشعانين

“Yang sama dengan ini adalah perkataan ulama yang mentafsirkan [az-zur] dalam ayat di atas dengan ‘hari-hari raya kaum musyrikin’. Ini adalah perkataan ad-Dohhak sebagaimana yang diriwayatkan oleh Husain bin Aqil dan perkataan Mujahid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Yahya bin al-Yaman.

Pendapat yang sama dengan ini adalah perkataan Ibnu Sirin bahwa yang dimaksud [az-zur] adalah asy-Sya`anin”.

Ibnu Katsir rohimahuwloh berkata dalam tafsirnya “Tafsir al-Qur`an al-`Adzim”  (6/130):

وَقَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ، وَطَاوُسُ، وَمُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ، وَالضَّحَّاكُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ، وَغَيْرُهُمْ: هِيَ أَعْيَادُ الْمُشْرِكِينَ.

“Abu al-Aliyah, Towus, Muhammad bin Sirin, ad-Dohhak, Ar-Robi bin Anas dan ulama yang lain mengatakan: ‘[az-zur] adalah hari-hari raya kaum musyrikin”.

Al-`Iz bin Abdussalam rohimahuwloh berkata dalam tafsirnya “Tafsir al-Qur`an “ (2/434)

{الزُّورَ} الشرك بالله، أو أعياد أهل الذمة وهو الشعانين، أو الغناء، أو مجالس الخنا، أو لعب كان في الجاهلية، أو الكذب، أومجلس كان النبي [صلى الله عليه وسلم] يُشتم فيه

“[az-zur] adalah kesyirikan kepada Alloh atau hari-hari raya (kaum kafir) ahluz  zimmah yaitu asy-sya`anin, atau bisa juga lagu-lagu atau tempat-tempat lacur, perayaan yang ada di masa jahiliyyah atau kedustaan atau majelis yang di dalamnya mencerca Nabi saw”.

Ar-Rozi dalam tafsirnya “Mafatihul Goib” (24/485) mengatakan:

وَيَحْتَمِلُ حُضُورَ كُلِّ مَوْضِعٍ يَجْرِي فِيهِ مَا لَا يَنْبَغِي وَيَدْخُلُ فِيهِ أَعْيَادُ الْمُشْرِكِينَ وَمَجَامِعُ الْفُسَّاقِ، لِأَنَّ مَنْ خَالَطَ أَهْلَ الشَّرِّ وَنَظَرَ إِلَى أَفْعَالِهِمْ وَحَضَرَ مَجَامِعَهُمْ فَقَدْ شَارَكَهُمْ فِي تِلْكَ الْمَعْصِيَةِ، لِأَنَّ الْحُضُورَ وَالنَّظَرَ دَلِيلُ الرِّضَا بِهِ، بَلْ هُوَ سَبَبٌ لِوُجُودِهِ وَالزِّيَادَةِ فِيهِ

“Bisa jadi yang dimaksud adalah menghadiri setiap tempat yang tidak patut, di mana di dalamnya masuk hari-hari raya kaum musyrikin dan tempat-tempat berkumpulnya orang-orang fasiq. Karena siapapun yang bercampur dengan pelaku lacur dan melihat perbuatan mereka, serta menghadiri tempat-tempat mereka berkumpul, maka itu berarti dia bersekutu dengan mereka dalam kemaksiatan. Karena, hadir dan melihat adalah bukti keridoan terhadap hal tersebut, bahkan merupakan sebab eksis dan bertambah maraknya (kemaksiatan) itu.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *