Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan tentang arti firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala:

“DAN HENDAKLAH KALIAN BERTAKBIR MENGAGUNGKAN ALLOH”
(Tafsir Ibnu Katsir: 1/505)

وَقَوْلُهُ: {وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ} أَيْ: وَلِتَذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ انْقِضَاءِ عِبَادَتِكُمْ، كَمَا قَالَ: {فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا} [الْبَقَرَةِ: 200]

Firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ

dan hendaklah kalian mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya. (Qs. Al-Baqoroh: 185)

yaitu agar kalian ingat kepada Alloh di saat ibadah kalian selesai.

Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lainnya, yaitu firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala:

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا

Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Alloh, sebagaimana kalian menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyang kalian, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. (Qs. Al-Baqoroh: 200)

وَقَالَ: [ {فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ} [النِّسَاءِ: 103] ، {فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [الْجُمُعَةِ: 10]

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Maka apabila kalian telah menyelesaikan sholat kalian, ingatlah Alloh di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. (QS. An-Nisa:103)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kalian beruntung. (Qs. Al-Jumu’ah: 10)

وَقَالَ: {وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ * وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ} [ق: 39، 40] ؛ وَلِهَذَا جَاءَتِ السُّنَّةُ بِاسْتِحْبَابِ التَّسْبِيحِ، وَالتَّحْمِيدِ وَالتَّكْبِيرِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ.

Dan firman Alloh Subhanahu wa Ta`ala:

وسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ. وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبارَ السُّجُودِ

Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai salat. (Qaf: 39-40)

Karena itulah maka disebutkan di dalam sunnah bahwa disunatkan membaca tasbih, tahmid, dan takbir setiap sesudah mengerjakan sholat lima waktu

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَا كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا بِالتَّكْبِيرِ؛ وَلِهَذَا أَخَذَ كَثِيرٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ مَشْرُوعِيَّةَ التَّكْبِيرِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ: {وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ}

Ibnu Abbas rodiyallohu `anhuma mengatakan, “Kami tidak mengetahui selesainya sholat Nabi shollallohu `alaihi wa sallam, melainkan melalui takbirnya.”

Karena itulah banyak kalangan ulama yang mengatakan bahwa membaca takbir disyariatkan dalam Hari Raya Idul Fitri atas dasar firman-Nya: Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian (bertakbir) mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan-Nya kepada kalian. (Al-Baqarah: 185)

حَتَّى ذَهَبَ دَاوُدُ بْنُ عَلِيٍّ الْأَصْبَهَانِيُّ الظَّاهِرِيُّ إِلَى وُجُوبِهِ فِي عِيدِ الْفِطْرِ؛ لِظَاهِرِ الْأَمْرِ فِي قَوْلِهِ {وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ} وَفِي مقابلَته مذهبُ أَبِي حَنِيفَةَ -رَحِمَهُ اللَّهُ -أَنَّهُ لَا يُشْرَع التَّكْبِيرُ فِي عِيدِ الْفِطْرِ. وَالْبَاقُونَ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ، عَلَى اخْتِلَافٍ فِي تَفَاصِيلِ بَعْضِ الْفُرُوعِ بَيْنَهُمْ.

Hingga Daud ibnu Ali Al-Asbahani Az-Zhohiri berpendapat wajib membaca takbir pada Hari Raya Idul Fitri berdasarkan makna lahiriah perintah yang terkandung di dalam firman-Nya: dan hendaklah kalian mengagungkan Alloh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian. (Al-Baqarah: 185)

Lain halnya dengan mazhab Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa membaca takbir pada Hari Raya Fitri tidak disyariatkan. Sedangkan mazhab lainnya mengatakan dianjurkan, tetapi masih ada perbedaan pendapat di kalangan mereka tentang sebagian cabang-cabang masalah-nya..

Intinya ada dua syari`at dari ayat ini:
1.  Disyariatkan takbir atau berzikir setiap bada sholat fardhu.
2.  Disyariatkan takbir saat akhir bulan Ramadhon dan awal iedul Fitr.

Walaupun para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu dimulainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *