Qolbun Salim

“QOLBUN SALIM”

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) الشعراء

“.. dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang suci, (QS. As-Syu`aro [26]:87-89)

Alloh Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ لَإِبْرَاهِيمَ (83) إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (84) الصافات

Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh). (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (QS. As-Shoffat [37]:83-84)

Ayat ini menggambarkan tentang keselamatan di akhirat didapat ketika hamba Alloh datang menghadap dengan hati yang disebut “qolbun salim”

Apa itu qolbun salim:

Ibnu Katsir rohimahulloh berkata:

وَلِهَذَا قَالَ: {إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} أَيْ: سَالِمٍ مِنَ الدَّنَسِ وَالشَّرْكِ.

Karena itu Alloh berfirman: [kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang suci/qolbun salim] yaitu yang selamat dari kotoran (hati) dan syirik

قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ: الْقَلْبُ السَّلِيمُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ حَقٌّ، وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ.

Muhammad bin Sirin rohimahulloh berkata: “qolbun salim adalah dia berilmu (yakin) bahwa Alloh itu kebenaran, hari kiamat pasti, tanpa ragu akan datang dan Alloh membangkitkan siapapun yang ada di dalam kubur”.

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: {إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} حَيِي (5) يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.

Ibnu `Abbas rodiyallohu `anhuma berkata: [kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang suci/qolbun salim] yaitu yang hidup bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang benar untuk diibadahi kecuali Alloh”.

وَقَالَ مُجَاهِدٌ، وَالْحَسَنُ، وَغَيْرُهُمَا: {بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} يَعْنِي: مِنَ الشِّرْكِ.

Mujahid, al-Hasan dan ulama lainnya rohimahumulloh berkata: “(qolbun salim) adalah suci dari syirik”.

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ: الْقَلْبُ السَّلِيمُ: هُوَ الْقَلْبُ الصَّحِيحُ، وَهُوَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ؛ لِأَنَّ قَلْبَ [الْكَافِرِ وَ] (6) الْمُنَافِقِ مَرِيضٌ، قَالَ اللَّهُ: {فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ} [الْبَقَرَةِ:10] .

Sa`ied bin al-Musayyab berkata; “qolbun salim: adalah hati yang sehat yaitu hatinya orang mu`min, karena hati orang kafir dan munafiq sakit. Alloh Ta`ala berfirman:

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ

“Hati-hati-hati mereka sakit”. (Qs. Al-Baqoroh [2]: 10)

وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ النَّيْسَابُورِيُّ: هُوَ الْقَلْبُ الْخَالِي مِنَ الْبِدْعَةِ، الْمُطْمَئِنُّ إِلَى السُّنَةِ.

Abu `Utsman an-Naisaburi rohimahulloh berkata: “yaitu hati yang bersih dari bid`ah, tentram senang dengan sunnah”.

(Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir: 6/149)

وَخَصَّ الْقَلْبَ بِالذِّكْرِ، لِأَنَّهُ الَّذِي إِذَا سَلِمَ سَلِمَتِ الْجَوَارِحُ، وَإِذَا فَسَدَ فَسَدَتْ سَائِرُ الْجَوَارِحِ. وَقَدْ تَقَدَّمَ فِي أَوَّلِ” الْبَقَرَةِ” «1». وَاخْتُلِفَ فِي الْقَلْبِ السَّلِيمِ فَقِيلَ: مِنَ الشَّكِّ وَالشِّرْكِ، فَأَمَّا الذُّنُوبُ فَلَيْسَ يَسْلَمُ مِنْهَا أَحَدٌ، قَالَهُ قَتَادَةُ وَابْنُ زَيْدٍ وَأَكْثَرُ الْمُفَسِّرِينَ. …

Hati disebut secara khusus, karena jika hati bersih, maka luruslah perilaku fisiknya dan jika hatinya rusak atau kotor, maka rusak/kotor pulalah periaku fisiknya. Sudah berlalu penjelasannya di awal surat al-Baqoroh. Pengertian qolbun salim diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan bahwa qolbun salim adalah yang bersih dari syak (keraguan agama) dan syirik. Sedangkan dosa-dosa, tidak ada satu orangpun yang selamat bersih dari dosa.

Itulah yang dikatakan oleh Qotadah, Ibnu Zaid dan mayoritas para ahli tafsir.

وَقَالَ الْحَسَنُ: سَلِيمٌ مِنْ آفَةِ الْمَالِ وَالْبَنِينَ. وَقَالَ الْجُنَيْدُ: السَّلِيمُ فِي اللُّغَةِ اللَّدِيغُ، فَمَعْنَاهُ أَنَّهُ قَلْبٌ كَاللَّدِيغِ مِنْ خَوْفِ اللَّهِ. وَقَالَ الضَّحَّاكُ: السَّلِيمُ الْخَالِصُ.

Al-Hasan rohimahulloh berkata: yaitu suci/bersih dari cacat karena harta dan anak-anak keturunan. Al-Junaid rohimahulloh berkata: salim menurut bahasa adalah sengatan. Artinya adalah bahwa hatinya seperti tersengat rasa takut kepada Alloh. Ad-Dohhak rohimahulloh berkata: salim adalah bersih murni.

قُلْتُ: وَهَذَا الْقَوْلُ يَجْمَعُ شَتَاتَ الْأَقْوَالِ بِعُمُومِهِ وَهُوَ حَسَنٌ، أَيِ الْخَالِصُ مِنَ الْأَوْصَافِ الذَّمِيمَةِ، وَالْمُتَّصِفُ بِالْأَوْصَافِ الْجَمِيلَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عُرْوَةَ أَنَّهُ قَالَ: يَا بَنِيَّ لَا تَكُونُوا لَعَّانِينَ فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَمْ يَلْعَنْ شَيْئًا قَطُّ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:” إِذْ جاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ”. …

Aku katakan: pendapat ini menghimpun pendapat-pendapat yang berserakan secara umum, dan ini bagus. Yaitu bersih murni dari sifat-sifat tercela dan memiliki sifat-sifat indah menawan. Wallohu a`lam. Diriwayatkan dari Urwah ia berkata: “hari anakku, janganlah kalian menjadi pelaknat, karena Ibrohim tidak pernah melaknat sedikitpun.

Alloh Ta`ala berfirman: “ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci/qolbun salim.’ (QS. As-Shoffat [37]:84)

وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:” يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ” يُرِيدُ- وَاللَّهُ أَعْلَمُ- أَنَّهَا مِثْلُهَا فِي أنها خالية من ذَنْبٍ، سَلِيمَةٌ مِنْ كُلِّ عَيْبٍ، لَا خِبْرَةَ لَهُمْ بِأُمُورِ الدُّنْيَا،

Di dalam Shohih Muslim dari riwayat hadis Abu Huroiroh rodiyallohu `anhu bahwa nabi shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:

“Ada yang memasuki surga, kaum yang hati-hati mereka seperti hati burung”.

Wallohu a`lam yang dimaksud adalah yang  bersih dari dosa, selamat dari cacat aib, tidak canggih dalam urusan dunia.

كَمَا رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:” أَكْثَرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْبُلْهُ” وَهُوَ حَدِيثٌ صَحِيحٌ. أَيِ الْبُلْهُ عَنْ مَعَاصِي اللَّهِ. قَالَ الْأَزْهَرِيُّ: الْأَبْلَهُ هُنَا هُوَ الَّذِي طُبِعَ عَلَى الْخَيْرِ وَهُوَ غَافِلٌ عَنِ الشَّرِّ لَا يَعْرِفُهُ. وَقَالَ الْقُتَبِيُّ: الْبُلْهُ هُمُ الَّذِينَ غَلَبَتْ عليهم سلامة الصدور وحسن الظن بالناس.

Sebagaimana Anas bin Malik rodiyallohu `anhu meriwayatkan bahwa Rosululloh shollallohu `alaihi wa sallam bersabda:

“Penghuni surga terbanyak adalah al-bulhu”. Hadis shohih.

Artinya al-Bulhu (dungu) dari maksiat kepada Alloh.

Al-Azhari berkata: al-Ablah di sini yaitu dia yang bertabiat kebaikan, tidak tahu tentang keburukan.

Al-Qutabiy berkata: al-bulhu adalah mereka yang kesucian dadanya, berbaik sangka kepada semua orang mendominasi jiwa-nya”.

(Lihat Tafsir Al-Qurthubi: 13/114)

Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata:

وَقَدْ اِخْتَلَفَتْ عِبَارَاتِ النَّاسِ فِي مَعْنَى اْلقَلْبِ السَّلِيْمِ.

وَاْلأَمْرُ اْلجَامِعُ لِذَلِكَ: أَنَّهُ الَّذِي قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللهِ وَنَهْيِهِ وَمِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ. فَسَلِمَ مِنْ عُبُوْدِيَّةِ مَا سِوَاهُ، وَسَلِمَ مِنْ تَحْكِيْمِ غَيْرِ رَسُوْلِهِ فَسَلِمَ فِي مَحَبَّتِهِ مَعَ تَحْكِيْمِهِ لِرَسُوْلِهِ فِي خَوْفِهِ وَرَجَائِهِ وَالتَّوَكُّلِ عَلَيْهِ، وَاْلِإَنَابَةِ إِلَيْهِ، وَالذُّلِّ لَهُ، وَإِيْثَارِ مَرْضَاتِهِ فِي كُلِّ حَاٍل، وَالتَّبَاعُدِ مِنْ سُخْطِهِ بِكُلِّ طَرِيْقٍ. وَهَذَا هُوَ حَقِيْقَةُ اْلعُبُوْدِيَّةُ الَّتِي لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِلَّهِ وَحْدَهُ.

Beragam penjelasan tentang makna qalbun salîm, namun semuanya terangkum dalam penjelasan berikut. Qalbun salîm adalah hati yang bersih dan selamat dari berbagai syahwat yang berseberangan dengan perintah dan larangan Alloh; Bersih dan selamat dari berbagai syubhat yang menyelisihi berita-Nya. Ia selamat, tidak menghambakan diri kepada selain-Nya, tidak menjadikan hakim selain Rosul-Nya; Bersih dalam mencintai Alloh Azza wa Jalla dan dalam berhakim kepada Rosul-Nya; Bersih dalam rasa takut dan berharap kepada-Nya, dalam bertawakal kepada-Nya, dalam bertaubat kepada-Nya, dalam menghinakan diri di hadapan-Nya, dalam mengutamakan mencari ridho-Nya di segala keadaan dan dalam menjauhi kemurkaanNya dengan segala cara. Inilah hakikat penghambaan (ubudiyah) yang tidak boleh ditujukan kecuali kepada Alloh semata.

فَاْلقَلْبُ السَّلِيْمُ: هُوَ الَّذِي سَلِمَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لِغَيْرِ اللهِ فِيْهَا شَرِكَةٌ بِوَجْهٍ مَا، بَلْ قَدْ خَلَصَتْ عُبُوْدِيَّتُهُ لِلَّهِ تَعَالَى: إِرَادَةً، وَمَحَبَّةً وَتَوَكُّلًا، وَإِنَابَةً، وَإْخْبَاتًا، وَخًشْيَةً، وَرَجَاءً. وَخَلَصَ عَمَلُهُ وَأَمْرُهُ كُلُّهُ لِلَّهِ، فَإِنْ أَحَبَّ أَحَبَّ فِي اللهِ، وَإِنْ بَغِضَ أَبْغَضَ فِي اللهِ، وَإِنْ أَعْطَى أَعْطَى لِلَّهِ، وَإِنْ مَنَعَ مَنَعَ لِلَّهِ، وَلَا يَكْفِيْهِ هَذَا حَتَّى يَسْلَمُ مِنَ اْلِانْقِيَادِ وَالتَّحَكُّمِ لِكُلِّ مَنْ عَدَا رَسُوْلِ اللهِ صَلّى اللهُ عَلًيْهِ وَسَلَّمَ،

Jadi, qolbun salîm adalah hati yang selamat dari perbuatan syirik. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Alloh semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inâbah (taubat), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja’ (pengharapan). Ia juga mengikhlaskan amalnya untuk Alloh semata. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Alloh Azza wa Jalla . Jika ia membenci maka ia membenci karena Alloh Azza wa Jalla . Jika ia memberi maka ia memberi karena Alloh Azza wa Jalla . Jika ia menolak maka ia menolak karena Alloh Azza wa Jalla . Namun ini saja tidak cukup, dia juga harus selamat dari ketundukan serta hanya berhakim kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam .

فَيُعَقِّدُ قَلْبَهُ مَعَهُ عَقْدًا مُحْكَمًا عَلَى اْلِائْتِمَامِ وَاْلِاْقْتِدَاءِ بِهِ وَحْدَهُ، دُوْنَ كُلِّ أَحَدٍ فِي اْلَأْمْوَالِ وَالْأَعْمَالِ: مِنْ أَقْوَالِ الْقَلْبِ، وَهِيَ الْعَقَائِدُ. وَأَقْوَالُ اللِّسَانِ، وَهِيِ الْخَبْرُ عَمَّا فِي الْقَلْبِ وَأَعْمَالِ الْقَلْبِ وَهِيَ الْإِرَادَةُ وَالْمَحَبَّةُ وَالْكَرَاهِيَّةُ وَتَوَابِعُهَا، وَأَعْمَالُ اْلجَوَارِحِ، فَيَكُوْنُ الْحُكْمُ عَلَيْهِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ دِقِّهِ وَجُلِّهِ

Ia harus mengikat hatinya  dengan kuat untuk mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ucapan atau perbuatan. Dia menjadikan apa yang dibawa oleh Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam menjadi hakim bagi dirinya dalam segala hal, dalam masalah besar maupun kecil. Sehingga dia tidak mendahuluinya, baik dalam kepercayaan, ucapan maupun perbuatan.

(Lihat At-Tafsir al-Qoyyim: 1/415)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *