Puasa adalah Perisai dan Benteng yang Kokoh dari Api Neraka

Puasa adalah perisai dan benteng yang kokoh dari api neraka –

Di dalam sebuah hadis dijelaskan:

(9225) 9214- حَدَّثَنَا عَتَّابٌ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو يُونُسَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَحِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ النَّارِ.

Rosululloh shollallohu `alaihi wa Sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، وَحِصْنٌ حَصِينٌ مِنَ النَّارِ

“Shoum itu Perisai dan Benteng yang kokoh (penjaga) dari api Neraka”. (Hadis riwayat Ahmad: 9214, Shohih Hasan)

Ibnu Rojab rohimahulloh berkata:

فَالْجُنَّةُ: هِيَ مَا يَسْتَجِنُّ بِهِ الْعَبْدُ، كَالْمِجَنِّ الَّذِي يَقِيهِ عِنْدَ الْقِتَالِ مِنَ الضَّرْبِ، فَكَذَلِكَ الصِّيَامُ يَقِي صَاحِبَهُ مِنَ الْمَعَاصِي فِي الدُّنْيَا، كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة: 183] [الْبَقَرَةِ: 183] ،

“Junnah adalah sesuatu yang dijadikan perisai oleh seorang hamba, seperti sebuah perisai yang dapat menjaganya dari pukulan atau tebasan di saat tempur. Demikian juga shoum dapat menjaga pelakunya dari berbuat maksiat saat di dunia. Alloh `Azza wa Jalla berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan di atas kalian shoum seperti yang telah diwajibkan di atas umat sebelum kalian, niscaya kalian bertakwa”. (Qs. Al-Baqoroh: 183).

فَإِذَا كَانَ لَهُ جُنَّةٌ مِنَ الْمَعَاصِي، كَانَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ جُنَّةٌ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْمَعَاصِي، لَمْ يَكُنْ لَهُ جُنَّةٌ فِي الْآخِرَةِ مِنَ النَّارِ.

Jika shoum itu menjadi perisai yang menjaga seseorang dari perilaku maksiat di dunia, maka di akhirat shoumnya itu akan menjadi perisai dari api neraka. Jika shoum itu tidak menjadi perisainya dari perilaku maksiat saat di dunia, maka di akhirat pun shoumnya itu tidak akan menjadi perisai dari api neraka”. (Jami`ul `Ulum wal Hikam: 2/139)

Ibnu Hajar al-`Asqolani rohimahulloh berkata:

وَالْجُنَّةُ بِضَمِّ الْجِيمِ الْوِقَايَةُ وَالسَّتْرُ وَقَدْ تَبَيَّنَ بِهَذِهِ الرِّوَايَاتِ مُتَعَلَّقُ هَذَا السَّتْرِ وَأَنَّهُ مِنَ النَّارِ وَبِهَذَا جَزَمَ بن عَبْدِ الْبَرِّ وَأَمَّا صَاحِبُ النِّهَايَةِ فَقَالَ مَعْنَى كَوْنِهِ جُنَّةً أَيْ يَقِي صَاحِبَهُ مَا يُؤْذِيهِ مِنَ الشَّهَوَاتِ وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ جُنَّةٌ أَيْ سُتْرَةٌ يَعْنِي بِحَسَبِ مَشْرُوعِيَّتِهِ فَيَنْبَغِي لِلصَّائِمِ أَنْ يَصُونَهُ مِمَّا يُفْسِدُهُ وَيَنْقُصُ …

Junnah dengan dhommah jim adalah penjaga dan penghalang. Dengan riwayat-riwayat ini jelaslah sudah bahwa keterkaitan penjagaan dan penghalangan ini adalah dari api neraka, itulah yang ditegaskan oleh Ibnu Abdil Bar.

Sedangkan penyusun kitab an-Nihayah mengatakan: ‘arti junnah adalah menjaga pelakunya dari syahwat yang mengganggunya’. Al-Qurthubi berkata: ‘Juhnah adalah penghalang (sesuai dengan dasar disyariatkannya shoum), untuk itu orang yang shoum selayaknya menjaga shoumnya dari hal-hal yang merusak dan mengurangi pahalanya.

وَيَصِحُّ أَنْ يُرَادَ أَنَّهُ سُتْرَةٌ بِحَسَبِ فَائِدَتِهِ وَهُوَ إِضْعَافُ شَهَوَاتِ النَّفْسِ وَإِلَيْهِ الْإِشَارَةُ بِقَوْلِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ إِلَخْ وَيَصِحُّ أَنْ يُرَادَ أَنَّهُ سُتْرَةٌ بِحَسَبِ مَا يَحْصُلُ مِنَ الثَّوَابِ وَتَضْعِيفِ الْحَسَنَاتِ وَقَالَ عِيَاضٌ فِي الْإِكْمَالِ مَعْنَاهُ سُتْرَةٌ مِنَ الْآثَامِ أَوِ مِنَ النَّارِ أَوْ مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ

Bisa juga yang dimaksud adalah tirai penghalang menurut manfaatnya, yaitu melemahkan syahwat jiwa, hal ini dapat dilihat dari hadis yang menyatakan bahwa orang yang shoum itu meninggalkan syahwatnya.

Boleh juga diartikan sebagai tirai penghalang karena hasil pahala yang didapat dan berlipat gandanya kebaikan. Qodhi `Iyad berkata dalam al-Ikmal: ‘artinya adalah tirai penghalang dari berbagai dosa atau dari api neraka atau dari kedua-duanya”.

وَبِالْأَخِيرِ جَزَمَ النَّوَوِيُّ وَقَالَ بن الْعَرَبِيِّ إِنَّمَا كَانَ الصَّوْمُ جُنَّةً مِنَ النَّارِ لِأَنَّهُ إِمْسَاكٌ عَنِ الشَّهَوَاتِ وَالنَّارُ مَحْفُوفَةٌ بِالشَّهَوَاتِ فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ إِذَا كَفَّ نَفْسَهُ عَنِ الشَّهَوَاتِ فِي الدُّنْيَا كَانَ ذَلِكَ سَاتِرًا لَهُ مِنَ النارفي الْآخِرَةِ

Di bagian akhir, An-Nawawi menegaskan: ‘Ibnul `Arobi berkata: ‘shoum menjadi junnah dari api neraka, karena menahan diri dari syahwat, sedangkan api neraka diliputi oleh syahwat. Kesimpulannya, jika seseorang menahan dirinya dari syahwat di dunia, maka hal itu akan menjadi tirai penghalang seseorang dari api neraka nanti di akhirat”. (Fathul Bari: 4/104)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *