Mengapa Ajakan ke Surga Kau Abaikan? – Abu Huroiroh rodiyallohu ‘anhu mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpaanku dan orang-orang yang aku dakwahi adalah seperti seseorang yang menyalakan api unggun. Setelah api menyala, banyak serangga (laron) yang berhamburan menghinggapinya.

٦٠٠٢- حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ النَّاسِ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي تَقَعُ فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا فَجَعَلَ يَنْزِعُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيهَا فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَهُمْ يَقْتَحِمُونَ فِيهَا

Abu Huroiroh rodiyallohu ‘anhu mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpaanku dan orang-orang yang aku dakwahi adalah seperti seseorang yang menyalakan api unggun. Setelah api menyala, banyak serangga (laron) yang berhamburan menghinggapinya. Orang itu menghalau binatang-binatang itu agar tidak masuk ke dalam api. Tapi binatang-binatang itu tidak mau dihalau, dan tetap ingin masuk ke dalam api. Maka akhirnya mereka masuk api. Demikianlah, aku menghalau kalian dari masuk api neraka (Hadis riwayat al-Bukhori: 6002)

Ibnu Hajar al-Asqolani rohimahulloh berkata:

قَالَ النَّوَوِيُّ مَقْصُودُ الْحَدِيثِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَبَّهَ الْمُخَالِفِينَ لَهُ بِالْفَرَاشِ وَتَسَاقُطَهُمْ فِي نَارِ الْآخِرَةِ بِتَسَاقُطِ الْفِرَاشِ فِي نَارِ الدُّنْيَا مَعَ حِرْصِهِمْ عَلَى الْوُقُوعِ فِي ذَلِكَ وَمَنْعِهِ إِيَّاهُمْ وَالْجَامِعُ بَيْنَهُمَا اتِّبَاعُ الْهَوَى وَضَعْفُ التَّمْيِيزِ وَحِرْصُ كُلٍّ مِنَ الطَّائِفَتَيْنِ عَلَى هَلَاكِ نَفْسِهِ

An-Nawawi rohimahulloh betkata: maksud hadis ini adalah bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menyamakan orang-orang yang menyelisihinya dengan serangga (laron) dan berjatuhannya mereka di api neraka di akhirat nanti dengan berjatuhannya mereka di api dunia, dengan gambaran antusiasnya mereka untuk menjatuhkan diri ke dalamnya, padahal Beliau shollallohu alaihi wa sallam mencegahnya dengan kuat. Kesamaan ini ada pada pengikutan hawa nafsu mereka, lemahnya kemampuan membedakan (mana amalan yang ke surga dan mana amalan yang ke neraka) serta antusiasnya mereka dalam mencelakakan diri mereka sendiri”. (Fathul Bari: 6/535)

  وَقَالَ  الْغَزَالِيُّ … وَلَكِنَّ جَهْلَ الْآدَمِيِّ أَشَدُّ مِنْ جَهْلِ الْفَرَاشِ لِأَنَّهَا بِاغْتِرَارِهَا بِظَوَاهِرِ الضَّوْءِ إِذَا احْتَرَقَتِ انْتَهَى عَذَابُهَا فِي الْحَالِ وَالْآدَمِيُّ يَبْقَى فِي النَّارِ مُدَّةً طَوِيلَةً أَوْ أَبْدًا وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ .

“Al-Ghozali rohimahulloh berkata… Akan tetapi kebodohan manusia jauh lebih besar dari kebodohan serangga-serangga itu. Karena serangga-serangga itu walaupun tertipu dengan cahaya yang tampak itu, walaupun terbakar tapi hanya sebentar saat itu saja. Tetapi manusia akan kekal di neraka dalam waktu yang sangat lama selama-lamanya.. wallohul musta’an”. (Fathul Bari: 6/535)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *