Membaca Al Quran dengan Tadabbur dan Tafahhum

Membaca Al Quran dengan Tadabbur dan Tafahhum – Caranya adalah mengkonsentrasikan hati dengan memikirkan makna lafadznya, sehingga dia mengetahui makna setiap ayat. Merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangan serta menerimanya secara totalitas di jiwa.

As-Suyuthi rohimahulloh berkata:

وَتُسَنُّ الْقِرَاءَةُ بِالتَّدَبُّرِ وَالتَّفَهُّمِ فَهُوَ الْمَقْصُودُ الْأَعْظَمُ وَالْمَطْلُوبُ الْأَهَمُّ وَبِهِ تَنْشَرِحُ الصُّدُورُ وَتَسْتَنِيرُ الْقُلُوبُ قَالَ تَعَالَى {كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ} وقال {أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ} 

“Disunnahkan membaca al-Quran dengan tadabbur (perenungan) dan tafahhum (pemahaman), itulah maksud terbesar dan tuntutan terpenting yang dengannya dada akan lapang dan hati akan bersinar. Alloh Subhanahu wa Taala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (29)

‘Kitab Penuh keberkahan yang Kami turunkan, agar mereka mentadabburi ayat-ayat-nya dan orang-orang cerdas mengingatnya’. (Qs. Shod [38]: 29)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24)

‘Apakah mereka tidak mentadabburi al-Quran ataukah hati-hati mereka terkunci’.(Qs. Muhammad [47]: 24)

وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ يَشْغَلَ قَلْبَهُ بِالتَّفْكِيرِ فِي مَعْنَى مَا يَلْفِظُ بِهِ فَيَعْرِفُ مَعْنَى كُلِّ آيَةٍ وَيَتَأَمَّلُ الْأَوَامِرَ وَالنَّوَاهِيَ وَيَعْتَقِدُ قَبُولَ ذَلِكَ فَإِنْ كَانَ مِمَّا قَصَّرَ عَنْهُ فِيمَا مَضَى اعْتَذَرَ وَاسْتَغْفَرَ وَإِذَا مَرَّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ اسْتَبْشَرَ وَسَأَلَ أَوْ عَذَابٍ أَشْفَقَ وَتَعَوَّذَ أَوْ تَنْزِيهٍ نَزَّهَ وَعَظَّمَ أَوْ دُعَاءٍ تَضَرَّعَ وَطَلَبَ.

Caranya adalah mengkonsentrasikan hati dengan memikirkan makna lafadznya, sehingga dia mengetahui makna setiap ayat. Merenungkan perintah-perintah dan larangan-larangan serta menerimanya secara totalitas di jiwa. Jika ada hal-hal yang berkaitan dengan keteledoran masa lalunya, maka dia memohon maaf dan ampunan. Jika dia melintasi ayat rahmat (ayat-ayat janji dan kebahagiaan), maka dia bergembira dan meminta kepada Alloh. Jika dia melintasi ayat-ayat azab atau siksa, maka dia berlindung atau mensucikan Alloh dengan pengagungan atau dengan berdoa penuh ketundukan dan permintaan”. 

(Al-Itqon Fi Ulumil Qur`an: 1/369)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *