Hukum Sholat Jumat dua Gelombang

MENIMBANG HUKUM SHOLAT JUMAT 2 GELOMBANG (SAAT DORUROT ATAU HAJAT)

Al-Bukhori rohimahulloh berkata dalam shohihnya:

بَابُ فَضْلِ صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ” وَكَانَ الْأَسْوَدُ إِذَا فَاتَتْهُ الْجَمَاعَةُ ذَهَبَ إِلَى مَسْجِدٍ آخَرَ وَجَاءَ أَنَسٌ إِلَى مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ فَأَذَّنَ وَأَقَامَ وَصَلَّى جَمَاعَةً”

Bab keutamaan sholat al-Jamaah.

Al-Aswad rohimahulloh jika tertinggal sholat jamaah, beliau pergi ke masjid lain. Sedangkan Anas bin Malik rodiyallohu anhu datang ke sebuah masjid yang sudah selesai sholat jamaah di dalamnya, lalu beliau iqomah dan sholat jamaah kedua”. (Shohih Al-Bukhori: 1/299)

Setelah menjelaskan bahwa hadis muallaq (hadis yang dbuang sanadnya ini) ada rincian sanadnya diriwayat Ibnu Abi Syaibah, Abu Yala dan al-Baihaqi rohimahumulloh, Badruddin al-Aini al-Hanafi rohimahulloh menjelaskan:

وَاخْتلف الْعلمَاء فِي الْجَمَاعَة بعد الْجَمَاعَة فِي الْمَسْجِد، فَروِيَ عَن ابْن مَسْعُود أَنه صلى بعلقمة وَالْأسود فِي مَسْجِد قد جمع فِيهِ، وَهُوَ قَول عَطاء وَالْحسن فِي رِوَايَة، وَإِلَيْهِ ذهب أَحْمد وَإِسْحَاق وَأَشْهَب عملا بِظَاهِر قَوْله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: (صَلَاة الْجَمَاعَة تفضل على صَلَاة الْفَذ) الحَدِيث. وَقَالَت طَائِفَة: لَا يجمع فِي مَسْجِد جمع فِيهِ مرَّتَيْنِ، وَرُوِيَ ذَلِك عَن سَالم وَالقَاسِم وَأبي قلَابَة، وَهُوَ قَول مَالك وَاللَّيْث وَابْن الْمُبَارك وَالثَّوْري وَالْأَوْزَاعِيّ وَأبي حنيفَة وَالشَّافِعِيّ. وَقَالَ بَعضهم: إِنَّمَا كره ذَلِك خشيَة افْتِرَاق الْكَلِمَة وَأَن أهل الْبدع يتطرقون إِلَى مُخَالفَة الْجَمَاعَة. وَقَالَ مَالك وَالشَّافِعِيّ: إِذا كَانَ الْمَسْجِد على طَرِيق الإِمَام لَهُ أَن يجمع فِيهِ قوم بعد قوم، وَحَاصِل مَذْهَب الشَّافِعِي أَنه: لَا يكره فِي الْمَسْجِد المطروق…

Para ulama berbeda pendapat tentang melakukan sholat berjamaah setelah selesainya sholat jamaah yang lain di satu masjid. Diriwayatkan bahwa Ibnu Masud rodiyallohu anhu bahwa beliau sholat bersama Alqomah dan al-Aswad di satu masjid yang sudah selesai jamaah pertamanya. Inilah pendapat Atho dan al-Hasan dalam satu riwayat. Ahmad, Ishak dan Asyhab juha berpendapat yang sama berdasarkan dzohir hadis Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam yang bersabda: ‘Sholat Jamaah lebih utama dari sholat sendiri’.  Ulama-ulama yang lain berpendapat bahwa tidak boleh satu masjid dilaksanakn dua kali jamaah sholat.  Pendapat ini diriwayatkan pendapat Salim, Al-Qosim dan Abu Qilabah. Begitu juga pendapat Malik, al-Laits, Ibnul Mubarok, ats-Tsauri, al-Auzai, Abu Hanifah, dan asy-Syafii. Sebagian mereka mengatakan: Hal itu dimakruhkan karena khawatir memecah persatuan dan dijadikan oleh Ahlul bidah jalan untuk menyelisihi jamaah.  Malik dan as-Syafii berkata: Jika masjid jalan raya, imam boleh melakukan jamaah bergelombang. Kesimpulan Mazhab Syafii bahwa tidak dimakruhkan untuk masjid di keramaian jalan raya. (Umdatul Qori Syarh Shohih al-Bukhori: 5/165)

Setelah menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang hukum sholat jamaah dua kali di satu masjid dan syarat sholat jum`at, maka Darul Ifta Mesir menjawab pertanyaan:

تجيب أمانة الفتوى بدار الإفتاء المصرية:

وقياسا على ما ذكر: فإنه يجوز إقامة الجمعة أكثر من مرة في مسجد واحد بمصلين مختلفين وبإمام مختلف؛ نظرًا لضيق المكان؛ ولعدم وجود مسجد آخر في هذه البلدة؛ ولأن بعض المسلمين ليس أولى بصلاة الجمعة من غيره؛ وأن الضرورات تبيح المحظورات؛ والضرورة تقدر بقدرها.  وعليه وفي واقعة السؤال: فإنه يجوز تكرار الجمعة في المسجد الواحد في الوقت المحدد للجمعة، وأن يكون التعدد بقدر الضرورة فقط ولا يتجاوزها؛ نظرًا لحاجة المسلمين في تلك البلاد.

Mengqiyas pembahasan di atas, maka dibolehkan mendirikan sholat Jum`at lebih dari 1 kali di masjid yang sama dengan orang-orang yang sholat berbeda dan imam yang berbeda, meninjau sempitnya tempat, tidak adanya masjid lain di negeri itu dan juga karena sebagian kaum muslimin tidak memiliki hak lebih utama mendirikan sholat Jum`at dibandingkan kaum muslimin lainnya. Demikian juga darurat bisa membolehkan hal-hal yang dilarang dan terukur menurut kadar nya masing-masing.

Atas dasar kenyataan pertanyaan tadi berarti dibolehkan adanya jamaah kedua sholat Jum`at di satu masjid yang sama di waktu yang ditentukan dalam sholat Jum`at. Bolehnya dua gelombang ini sesuai kadar darurat saja dan tidak boleh diluar itu, melihat kebutuhan kaum muslimin di negeri tersebut”. 

Hal ini juga menjadi fatwa para ulama yang ada di Majelis Ulama Eropa (European Council For Fatwa And Research)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *