Hukum Membaca Al-Qur’an Melihat Mushaf langsung di Waktu Sholat

وَكَانَتْ عَائِشَةُ يَؤُمُّهَا عَبْدُهَا ذَكْوَانُ مِنَ الْمُصْحَفِ.

“Dahulu, `Aisyah sholat diimami oleh budaknya yaitu Dzakwan dengan membaca al-Qur`an dari Mushaf”. (Atsar riwayat al-Bukhori:1/321)

Badruddin al-`Aini rohimahulloh berkata:

ظَاهره يدل على جَوَاز الْقِرَاءَة من الْمُصحف فِي الصَّلَاة، وَبِه قَالَ ابْن سِيرِين وَالْحسن وَالْحكم وَعَطَاء، وَكَانَ أنس يُصَلِّي وَغُلَام خَلفه يمسك لَهُ الْمُصحف، وَإِذا تعايا فِي آيَة فتح لَهُ الْمُصحف. وَأَجَازَهُ مَالك فِي قيام رَمَضَان، وَكَرِهَهُ النَّخعِيّ وَسَعِيد بن الْمسيب وَالشعْبِيّ، وَهُوَ رِوَايَة عَن الْحسن. وَقَالَ: هَكَذَا يفعل النَّصَارَى، وَفِي مُصَنف ابْن أبي شيبَة وَسليمَان بن حَنْظَلَة وَمُجاهد بن جُبَير وَحَمَّاد وَقَتَادَة، وَقَالَ ابْن حزم: لَا تجوز الْقِرَاءَة من الْمُصحف وَلَا من غَيره لمصل إِمَامًا كَانَ أَو غَيره، فَإِن تعمد ذَلِك بطلت صلَاته، وَبِه قَالَ ابْن الْمسيب وَالْحسن وَالشعْبِيّ وَأَبُو عبد الرَّحْمَن السّلمِيّ وَهُوَ مَذْهَب أبي حنيفَة وَالشَّافِعِيّ، قَالَ صَاحب (التَّوْضِيح) : وَهُوَ غَرِيب لم أره عَنهُ. قلت: الْقِرَاءَة من مصحف فِي الصَّلَاة مفْسدَة عِنْد أبي حنيفَة لِأَنَّهُ عمل كثير، وَعند أبي يُوسُف وَمُحَمّد يجوز، لِأَن النّظر فِي الْمُصحف عبَادَة، وَلكنه يكره لما فِيهِ من التَّشَبُّه بِأَهْل الْكتاب فِي هَذِه الْحَالة، وَبِه قَالَ الشَّافِعِي وَأحمد، وَعند مَالك وَأحمد فِي رِوَايَة. لَا تفْسد فِي النَّفْل فَقَط.

Zohirnya menunjukkan bolehnya membaca al-Qur`an di waktu sholat dengan melihat langsung ke mushaf. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Sirin, al-Hasan, al-Hakam dan `Atho. Dahulu, Anas melaksanakan sholat dan pembantunya memegang mushaf di belakang beliau. Jika beliau tersamar tentang satu ayat, dibukalah mushaf itu. Malik membolehkan hal itu di sholat malam bulan Romadhon. Hal itu dimakruhkan oleh an-Nakhoi, Sa`ied Ibnul Musayyib, dan as-Sya`bi serta satu riwayat pendapat al-Hasan. Dia berkata: itulah yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani, inipun yang ada di Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, Sulaiman ibnu Hanzolah, Mujahid bin Jubair, Hammad dan Qotadah. Ibnu Hazm berkata: Orang yang sedang sholat tidak boleh membaca al-Qur`an dari mushaf atau bentuk lain selain mushaf, baik dia imam atau bukan, jika ia sengaja melakukannya, maka batallah sholatnya. Itulah yang dikatakan Ibnu Musayyib, al-Hasan, as-Sya`bi, Abu Abdirrohman as-Sulami, dan menjadi mazhab Abu Hanifah dan As-Syafi`i. Penyusun kitab At-Taudhih berkata: pendapat aneh dan aku tidak sepakat dengan itu.

Aku katakan: membaca al-Qur`an dengan melihat mushaf di waktu sholat akan merusak sholatnya menurut Abu Hanifah, karena banyak bergerak. Sedangkan menurut Abu Yusuf dan Muhammad boleh, karena memandang ayat-ayat di mushaf itu ibadah. Akan tetapi menurutnya hal itu dimakruhkan, karena menyerupai Ahlul Kitab. Itulah yang dikatakan oleh as-Syafi`i dan Ahmad. Sedangkan menurut Malik dan dalam satu riwayat Ahmad bahwa hal itu tidak merusakn sholat jika di dalam sholat sunnah saja.  (Umdatul Qori: 5/225)

Imam an-Nawawi menyimpulkan:

أَنَّ الْقِرَاَءةَ فِي الْمُصْحَفِ لَا تُبْطِلُ الصَّلَاةَ مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ مَالِكٍ وَاَبِي يُوْسُفَ وَمُحَمَّدٍ وَاَحْمَدَ

“Sesungguhnya pendapat membaca al-Qur`an (di waktu sholat) melihat mushaf tidak membatalkan sholat adalah mazhab kami, mazhab Malik, Abu Yusuf, Muhammad dan Ahmad”. (al-Majmu` Syarh al-Muhadzzab: 4/95)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *