Lailatul Qodr – Berada pada Sepuluh Malam Terakhir Romadhon

Lailatul Qodr – Berada pada Sepuluh Malam Terakhir Romadhon

Dalam sebuag atsar diceritakan:

10471 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بن إِبْرَاهِيمَ الدَّبَرِيُّ، أنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أنا مَعْمَرٌ، عَنْ قَتَادَةَ، وَعَاصِمٍ، أنهما سمعا عكرمة، يَقُولُ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: دَعَا عُمَرُ بن الْخَطَّابِ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلَهُمْ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ، فَأَجْمَعُوا أَنَّهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ،

Ikrimah rohimahulloh mengatakan bahwa Ibnu Abbas rodiyallohu `anhuma telah menceritakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khottob rodiyallohu `anhu mengundang semua sahabat, lalu menanyakan kepada mereka tentang Lailatul Qadr, maka mereka sepakat mengatakan bahwa malam Lailatul Qadr berada di malam sepuluh terakhir bulan Romadhon.

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: فَقُلْتُ لِعُمَرَ:إِنِّي لأَعْلَمُ وَإِنِّي لأَظُنُّ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ، فَقَالَ عُمَرُ: وَأَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ؟ فَقُلْتُ:سَابِعَةٌ تَمْضِي، أَوْ سَابِعَةٌ تَبْقَى مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ، فَقَالَ عُمَرُ: وَمِنْ أَيْنَ عَلِمْتَ ذَلِكَ؟

Ibnu Abbas melanjutkan, bahwa lalu ia berkata kepada Umar, “Sesungguhnya aku merasa yakin mengetahui di malam ke berapakah Lailatul Qadar berada?” Umar bertanya, “Kalau begitu, katakanlah di malam ke berapakah ia berada?” Ibnu Abbas menjawab, bahwa Lailatul Qadar adanya pada sepuluh malam terakhir Romadon bila telah berlalu tujuh malam (malam tanggal 27 Romadon), atau bila tinggal tujuh malam lagi (malam tanggal 23 Romadon). Umar bertanya, “Dari manakah kamu mengetahui hal itu?”

فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ:قُلْتُ: خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَسَبْعَ أَرَضِينَ وَسَبْعَةَ أَيَّامٍ، وَإِنَّ الشَّهْرَ يَدُورُ فِي سَبْعٍ، وَخَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ سَبْعٍ، وَيَأْكُلُ مِنْ سَبْعٍ، وَيَسْجُدُ عَلَى سَبْعٍ، وَالطَّوَافُ بِالْبَيْتِ سَبْعٌ، وَرَمْيُ الْجِمَارِ سَبْعٌ، لأَشْيَاءَ ذَكَرَهَا،

Ibnu Abbas menjawab, bahwa Alloh telah menciptakan langit tujuh lapis, bumi tujuh lapis, hari-hari ada tujuh, dan bulan berputar pada tujuh (manzilah). Manusia diciptakan dari tujuh (lapis bumi), makan dengan tujuh anggota, sujud dengan tujuh anggota, tawaf tujuh kali, melempar jumrah tujuh kali, dan lain sebagainya.

فَقَالَ عُمَرُ: لَقَدْ فَطِنْتَ لأَمْرٍ مَا فطِنَّا لَهُ،

Maka Umar berkata, “Sesungguhnya engkau mempunyai pandangan yang jeli yang kami tidak menyadarinya.”

(Atsar riwayat Abdurrozzaq dalam al-Mushonnaf: 7679 dan at-Thobroni dalam al-Mu`jam al-Kabir: 9/130, 10471)